This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Kamis, 30 Oktober 2008
Rabu, 29 Oktober 2008
Ratu Adil Mentas

Then, which is one of these have been selected as its cover? No one. Hahaha...

This is the final cover, thanks a lot to Mr. Wajendra who gave me this JPEG format for being uploaded here :)
Visit more : Ratu Adil Mentas
Minggu, 26 Oktober 2008
Kesan Pertama Ada pada Sampul Buku
SEDEMIKIAN pentingnya hingga menyadarkan para penerbit bahwa para pembeli buku kini tidak hanya sekadar tertarik pada isi buku yang dijajakan, namun juga pada visualisasi sampul. Bahkan, sering kali sampul buku diposisikan sebagai pintu utama bagi calon pembeli untuk melihat lebih lanjut sebuah buku.
Hawe Setiawan, editor Penerbit Pustaka Jaya, mengungkapkan bahwa tidak dapat dimungkiri sampul telah menjadi etalase bagi sebuah buku di hadapan pembaca. "Yang sangat terasa kalau sedang pameran, orang melihat buku sering kali sepintas saja, kalo tampilannya menarik, baru orang memutuskan mendekat dan membeli," ujar Hawe.
Pengamatan terhadap perilaku konsumen dalam pembelian buku ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, keberadaan sampul buku semenjak kemunculannya yang pertama kali-sejak dicetaknya kitab suci-masih berfungsi sebatas sebagai pelindung isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah, fungsi keindahan dan nilai bisnis dari sebuah sampul buku menjadi perhatian utama penerbit.
Di Indonesia sendiri, sampul buku mulai dikenal ketika masuknya buku-buku berjilid yang dibawa oleh orang Belanda. Tipografi di depan sampul masih sangat klasik dan konvensional dengan teknologi huruf timah. Namun, lambat laun ketika teknologi desain grafis semakin berkembang, para pembuat sampul buku menjadi lebih kreatif menghasilkan beragam kreasi sampul buku. Di awal tahun 1970-an, misalnya, teknologi offset sudah memungkinkan penggunanya untuk memindahkan gambar pada sampul buku, bahkan untuk mencetak sebuah karya perupa seperti yang sudah dipraktikkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Perkembangan demikian semakin mendorong nilai-nilai estetika sebuah buku bersama sampulnya.
Dalam teknologi percetakan dan desain grafis semakin terpacu oleh semakin ketatnya persaingan bisnis di dunia penerbitan buku. Dalam persaingan bisnis, para pelaku yang terlibat di dalamnya berlomba untuk memasarkan produknya agar konsumen berminat melihat dan membelinya. Kini, salah satu strategi bisnis dalam menjual buku adalah membuat tampilan fisiknya menarik, yaitu melalui desain sampul bukunya. Strategi ini diakui oleh beberapa penerbit hingga mereka merasa perlu mendesain sebuah sampul buku dengan baik. Pengalaman Penerbit Kiblat, Bandung, menarik dipaparkan. Bagi penerbit ini, untuk meraih pasar yang bagus tidak cukup hanya dengan membangun jaringan distribusi yang baik, namun harus dibarengi dengan tampilan fisik yang menarik pula. Sebelumnya, penerbit, yang berfokus pada penerbitan buku-buku sastra Sunda, ini sempat mengalami kecemasan karena sastra Sunda kurang disukai khalayak. Dalam kecemasan, mereka mencoba strategi baru, yaitu mencetak buku-buku sastra Sunda dengan tampilan fisik yang menarik sebagaimana tren sampul buku yang terjadi saat ini. "Ternyata pasar antusias dengan buku-buku Kiblat," ujar Rahmat Taufik. Kurun waktu dua tahun terakhir sudah 40 buku berbahasa Sunda yang mereka terbitkan dengan respons pembeli cukup baik. Penggantian sampul buku juga diyakini oleh Dorothea Rosa Herliany tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga kesan masyarakat terhadap penerbit.
Peluncuran buku-buku dari Penerbit Penguin Books mengubah sejarah penerbitan buku, khususnya di Inggris menjelang tahun 1940-an. Penerbit ini berhasil menciptakan citra produk melalui desain sederhana sampul buku-bukunya, termasuk penciptaan simbol penguin dan pemilihan jenis paperback yang membuat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan buku-buku penerbit lain yang umumnya dicetak dengan hardback. Penguin juga membuat ciri khas warna untuk setiap jenis buku yang diterbitkannya: jingga untuk buku fiksi, biru gelap untuk biografi, hijau untuk buku tentang kriminalitas dan misteri.
Era tahun 1960-an hingga tahun 1970-an terjadi lonjakan buku-buku paperback, mengikuti jejak penerbit Penguin. Masa ini, buku-buku terbitan Penguin tetap memakai karakter khas untuk setiap jenis buku, namun elemen visual dengan gambar-gambar menarik tampak lebih dominan dibandingkan dengan elemen visual huruf pada awal berdirinya Penguin. Penemuan teknologi pencetakan berwarna yang murah, airbrushing serta lettraset ikut mendorong perkembangan ini. Terlebih pemakaian komputer memungkinkan para desainer bereksplorasi tanpa batas.
Saat ini, teknologi kembali beraksi. Teknologi memungkinkan kehadiran buku-buku digital atau e-book. Namun, sekalipun kini mulai mengisi pasar, tidak otomatis membuat era buku- buku Guttenberg berakhir. Paling tidak belum saatnya.












